Yes!
Yes! Ucap Pin girang ketika memasuki kostnya, sambil mencopot sepatunya, ia bersiul menyanyikan lagu When You say nothing at all sipa lagi kalau kepunyaan Ronan Keating tea.
Bagaimana tidak, hati Pin berbunga-bunga. Akhirnya Pin berhasil mendekati Joan. Cewek manis yang telah mengambil hatinya. Apalagi respon Joan yang kayaknya memberi lampu ijo. Sampai-sampai Pin keterusan berkhayal, seandainya Joan menerima cintanya, Oh dunia tersenyum padanya.
Ogus yang lagi ngerjain tugas matematika, dan Eko yang lagi khusu baca komik Sinchan sempat mengalihkan perhatian. Mereka memperhatikan gerak-gerik Pin yang begitu-itu. Senyam-senyum dan berlagak aneh. Pokoknya nggak seperti biasanya.
“Kenapa kamu Pin, bagi-bagi dong kalau lagi dapat kebahagiaan sama kita-kita. Bener nggak Ko?” Goda Ogus ketika Pin duduk di meja belajarnya yang masih bersenyum simpul.
Eko hanya mengangguk. “Dapet kiriman nih ceritanya?” Tanyanya.
“Nggak. Yah… aku lagi seneng aja, walau tanggal tua, tapi ada saja yang ngebikin hatiku berbunga-bunga.” Jawab Pin. “ dari pada cemberut khan. Lebih baik kalau aku ngebikin hati senang, syukur-syukur kalau kalian berdua jadi kebawa senang lantaran aku. Benerkah?.”
“Seneng sih seneng tapi kenapa, aku takut kalau ngeliat orang senyum-senyum tanpa sebab kayak lu itu, setresnya lagi kumat, atau apa?”
“Pikiran kamu saja yang su’udzon, kalau ngeliat orang yang senyum-senyum sendirian anggap saja lagi seneng, jadi kamu tak perlu acara takut-takut segala, rileks saja. Udahlah, aku mau istirahat, awas jangan ganggu, aku mau nikmati rasa bahagia ini.”
Pin berbaring di kursi sambil menyanyikan lagu Metallica Nothin Else Matters yang nggak bener liriknya, apalagi nadanya jauh sama aslinya. Tapi maklum saja emang segitu-gitunya kemampuan Pin kalau bernyanyi. Sampai akhirnya Pin lelah dan diem.
Ia mendengarkan obrolah Ogus dan Eko yang kedengarannya serius banget. Apaladi Pin mendengar nama Joan disebut-sebut.
“Aku sih bisa aja ngebantu kamu supaya deket sama dia. Tapi kalau berhasil Tipsnya dong.” Kata Eko.
“Pokoknya beres, kalau tuh si Joan jadi pacar gue, kamu mau apa entar aku kabulkan. OK”
Pembuicaraan Ogus dan Eko sangat mengganggu pikiran Pin yang sudah tenggelam dalam angannya yang berandai-andai seumpama Joan jadi pacarnya. Dan selama ini usaha Pin untuk mendekati Joan sudah berhasil. Dan telah tertanam bunga-bungan cinta dalam hatinya.
Pin serba salah jadinya, antara perasaannya kepada Joan dan perasaannya pada Ogus temannya. Apa yang harus aku lakukan. Tanya Pin kepada dirinya. Mungkin aku harus mengalah. Dan memang Pin memilih untuk menyembunyikin perasaanya. Sobat semoga enggkau berhasil.
Pin memberhentikan motor besarnya di dekat lapangan basket. Ia memperhatikan Joan yang lagi asyik bermain basket bersama teman-temannya.
Pin hanya menarik napas panjang bila ingat perkataan Ogus yang naksir berat ke Joan. Mengapa ini terjadi. Sesalnya dalam hati. Joan aku suka kamu. Dan selama ini kamu belum tau kalau kedekatan kamu dengan ku adalah ada sesuatu yang disembunyikan. Selama i ni aku simpan bunga-bunga kecil cinta untukmu. Aku sangat mengagumimu.
Ketika itu Joan melambaikan tangannya, ia baru menyadari kalau Pin ada lagi memperhatikannya.
“Hai Pin” Teriak Joan sambil tersenyum.
Pin hanya membalas lambaian tangan Joan. Senyumu indah. Sayang aku harus mengalah. Aku tak ingin ada yang terluka kerna aku. Ogus mencintaimu Joan. Dan aku tak mau Ogus tau kalau aku ini mencintaimu. Apa lagi kamu Joan, tak boleh tau. Bias kusimpan cinta ini.
“Hai Pin, sudah lama?” Sapa Joan begitu selesai main basket, ia segera berlari mendekati Pin.
“Lumayan.” Jawab Pin. Ia memgang tangan Joan. I Love You. Katanya dalam hati. “Disini tempat kau latihanmu?”
Joan mengangguk, Ia duduk disebelah Pin. “Kamu sengaja kesini?”
“Mungkin. Kangen sih.”
Joan hanya tersenyum “Ngaco”.
Pin meluruskan rambut Joan yang berantakan karena berkeringat. Hatinya berdesir. Ia sudah menganggap Joan adalah kekasinya. Sementara Joan hanya diam.
“Nah sudah beres, kelihatan cantik kalau rapi kayak gini.”
“Ngejek nih ceritanya jangan-jangan ada maunya?”
“Ember.”
“Benerkan kalau sudah muji, pasti ada udang dibalik batu.”
“Pinter Juga kamu, tapi mauku menguntungkan kamu. Aku mau…” Pin menatap bola mata Joan yang sama sedang menatapnya. I Love you. “Aku mau nganter kamu pulang.” Kata pin sambil menyentuh hidung Joan. “Trus disuguhin kopi, trus disuruh temenin bobo, pas pulangnya cup pipi kiri kanan plus jidat. Gimana enakan.”
“Maunya.” Kata Joan sambil tertawa. “Yuk kita jalan.”
“Mampir dulu.” Ajak Joan ketika sampai di depan kostnya.
“Makasih. Lain kali aja, lagian udah sore gini, mo magrib lagi. Besok lagi.” Kata Pin. Ia melambaikan tangannya kemudian memacu motor besarnya meninggal Joan
Pin Melesat dengan motornya membawa sejuta kegalauan. Aku tak bisa membohongi hati ini aku jatuh cinta padamu Joan. Kata Pin dalam hati. Tapi Ogus, seandainya aku tak mendengar sendiri, seandainya buka Ogus yang suka padamu, yah Cuma seandainya.biarlah aku mengalah. Aku simpan bunga-bunga kecil cinta untukmu nanti.
-- Tamat --
Bagaimana tidak, hati Pin berbunga-bunga. Akhirnya Pin berhasil mendekati Joan. Cewek manis yang telah mengambil hatinya. Apalagi respon Joan yang kayaknya memberi lampu ijo. Sampai-sampai Pin keterusan berkhayal, seandainya Joan menerima cintanya, Oh dunia tersenyum padanya.
Ogus yang lagi ngerjain tugas matematika, dan Eko yang lagi khusu baca komik Sinchan sempat mengalihkan perhatian. Mereka memperhatikan gerak-gerik Pin yang begitu-itu. Senyam-senyum dan berlagak aneh. Pokoknya nggak seperti biasanya.
“Kenapa kamu Pin, bagi-bagi dong kalau lagi dapat kebahagiaan sama kita-kita. Bener nggak Ko?” Goda Ogus ketika Pin duduk di meja belajarnya yang masih bersenyum simpul.
Eko hanya mengangguk. “Dapet kiriman nih ceritanya?” Tanyanya.
“Nggak. Yah… aku lagi seneng aja, walau tanggal tua, tapi ada saja yang ngebikin hatiku berbunga-bunga.” Jawab Pin. “ dari pada cemberut khan. Lebih baik kalau aku ngebikin hati senang, syukur-syukur kalau kalian berdua jadi kebawa senang lantaran aku. Benerkah?.”
“Seneng sih seneng tapi kenapa, aku takut kalau ngeliat orang senyum-senyum tanpa sebab kayak lu itu, setresnya lagi kumat, atau apa?”
“Pikiran kamu saja yang su’udzon, kalau ngeliat orang yang senyum-senyum sendirian anggap saja lagi seneng, jadi kamu tak perlu acara takut-takut segala, rileks saja. Udahlah, aku mau istirahat, awas jangan ganggu, aku mau nikmati rasa bahagia ini.”
Pin berbaring di kursi sambil menyanyikan lagu Metallica Nothin Else Matters yang nggak bener liriknya, apalagi nadanya jauh sama aslinya. Tapi maklum saja emang segitu-gitunya kemampuan Pin kalau bernyanyi. Sampai akhirnya Pin lelah dan diem.
Ia mendengarkan obrolah Ogus dan Eko yang kedengarannya serius banget. Apaladi Pin mendengar nama Joan disebut-sebut.
“Aku sih bisa aja ngebantu kamu supaya deket sama dia. Tapi kalau berhasil Tipsnya dong.” Kata Eko.
“Pokoknya beres, kalau tuh si Joan jadi pacar gue, kamu mau apa entar aku kabulkan. OK”
Pembuicaraan Ogus dan Eko sangat mengganggu pikiran Pin yang sudah tenggelam dalam angannya yang berandai-andai seumpama Joan jadi pacarnya. Dan selama ini usaha Pin untuk mendekati Joan sudah berhasil. Dan telah tertanam bunga-bungan cinta dalam hatinya.
Pin serba salah jadinya, antara perasaannya kepada Joan dan perasaannya pada Ogus temannya. Apa yang harus aku lakukan. Tanya Pin kepada dirinya. Mungkin aku harus mengalah. Dan memang Pin memilih untuk menyembunyikin perasaanya. Sobat semoga enggkau berhasil.
Pin memberhentikan motor besarnya di dekat lapangan basket. Ia memperhatikan Joan yang lagi asyik bermain basket bersama teman-temannya.
Pin hanya menarik napas panjang bila ingat perkataan Ogus yang naksir berat ke Joan. Mengapa ini terjadi. Sesalnya dalam hati. Joan aku suka kamu. Dan selama ini kamu belum tau kalau kedekatan kamu dengan ku adalah ada sesuatu yang disembunyikan. Selama i ni aku simpan bunga-bunga kecil cinta untukmu. Aku sangat mengagumimu.
Ketika itu Joan melambaikan tangannya, ia baru menyadari kalau Pin ada lagi memperhatikannya.
“Hai Pin” Teriak Joan sambil tersenyum.
Pin hanya membalas lambaian tangan Joan. Senyumu indah. Sayang aku harus mengalah. Aku tak ingin ada yang terluka kerna aku. Ogus mencintaimu Joan. Dan aku tak mau Ogus tau kalau aku ini mencintaimu. Apa lagi kamu Joan, tak boleh tau. Bias kusimpan cinta ini.
“Hai Pin, sudah lama?” Sapa Joan begitu selesai main basket, ia segera berlari mendekati Pin.
“Lumayan.” Jawab Pin. Ia memgang tangan Joan. I Love You. Katanya dalam hati. “Disini tempat kau latihanmu?”
Joan mengangguk, Ia duduk disebelah Pin. “Kamu sengaja kesini?”
“Mungkin. Kangen sih.”
Joan hanya tersenyum “Ngaco”.
Pin meluruskan rambut Joan yang berantakan karena berkeringat. Hatinya berdesir. Ia sudah menganggap Joan adalah kekasinya. Sementara Joan hanya diam.
“Nah sudah beres, kelihatan cantik kalau rapi kayak gini.”
“Ngejek nih ceritanya jangan-jangan ada maunya?”
“Ember.”
“Benerkan kalau sudah muji, pasti ada udang dibalik batu.”
“Pinter Juga kamu, tapi mauku menguntungkan kamu. Aku mau…” Pin menatap bola mata Joan yang sama sedang menatapnya. I Love you. “Aku mau nganter kamu pulang.” Kata pin sambil menyentuh hidung Joan. “Trus disuguhin kopi, trus disuruh temenin bobo, pas pulangnya cup pipi kiri kanan plus jidat. Gimana enakan.”
“Maunya.” Kata Joan sambil tertawa. “Yuk kita jalan.”
“Mampir dulu.” Ajak Joan ketika sampai di depan kostnya.
“Makasih. Lain kali aja, lagian udah sore gini, mo magrib lagi. Besok lagi.” Kata Pin. Ia melambaikan tangannya kemudian memacu motor besarnya meninggal Joan
Pin Melesat dengan motornya membawa sejuta kegalauan. Aku tak bisa membohongi hati ini aku jatuh cinta padamu Joan. Kata Pin dalam hati. Tapi Ogus, seandainya aku tak mendengar sendiri, seandainya buka Ogus yang suka padamu, yah Cuma seandainya.biarlah aku mengalah. Aku simpan bunga-bunga kecil cinta untukmu nanti.
-- Tamat --
Comments
Post a Comment