Three Point Untuk Rinie
Namaku Ega, siswa kelas 3 SMU yang tergabung di Club baskes sekolah. Setiap sore kami latihan di lapangan basket sekolah. Dan seperti biasanya hari ini kami latihan lebih giat menjelang pertandingan terakhir.
“Ayo Ega!, keluarkan jurusmu.”
Aku memang jago three point, hampir setiap lemparan tak pernah gagal. Disetiap pertandingan aku akan mencetak three point dibabak terakhir untuk mengungguli Club lawan teamku. Aku juga depend yang bagus, mampu memblok serangan lawan, itulah yang dimaksud -jurus- yang teman-temanku serukan untukku, mengartikan tiba saatnya aku keluarkan seluruh kekuatanku.
Yang disana, seorang siswi yang selalu memberi semangat pada Club Basket kami adalah Rinie, dia manajer Club Basket yang handal, seorang gadis periang, pintar dan lucu, lagi pula dia adalah anak Pak Guru Koko, pembimbing Club Basket. Wajar kalau Rinie jadi sangat popular.
Aku suka padanya tapi agak repot, di dalam club basket cinta dilarang.
“Ega, liat tuh, dia datang lagi.” Kata Nenda berbisik, ia memandang Eki dengan perasaan yang tak senang.
“Eki kan playboy, dia pernah merebut pacarku, sialan.” Geram Dedi.
“Katanya sekarang Eki berhubungan dengan Rinie.” Kata Nenda.
“Sialan kenapa kita dilarang pacaran, kalau tidak, Rinie pacarku. Aku ingin mematahkan ‘kunyuk’ itu.” Kata Dedi.
“Dari pada kamu lebih baik Eki.” Kata Nenda.
“Apa katamu!!!”
Aku mengerti kenapa mereka marah, karena perasaanku sama seperti mereka. Mungkin seluruh anggota Club Basket. Larangan untuk jatuh cinta mungkin tak berlaku bagi Rinie. Kami sendiri yang membuat persetujuan itu, tapi kami juga yang menderita.
Usai latihan, kami pamit pulang pada Pak Guru Koko.
“Terus pulang ya, jangan mampir kemana-mana.” Kata Pak Guru Koko.
“Kami permisi dulu pak!” kata mereka.
Akupun pamitan, diluar ruangan Rini telah menunggu kami.
“Ega!… pulang sama-sama yuk!” kata Rinie begitu melihat kami keluar dari ruangan.
“Ega kan serigala, nanti kamu harus keluar dari Club Basket lho!” goda Nenda.
“Apaan sih!”
Entah sejak kapan, dengan alasan rumahnya berdekatan, aku sering mengantar Rinie pulang.
“Hari ini Eki tidak ada ya?” kataku mengisi pembicaraan dalam perjalanan pulang.
“Malu ah, aku ditanya itu terus!”
“Tapi kamu suka kan!”
“Kamu cemburu ya!?”
“Ah… nggak, tapi hati-hati karena katanya dia playboy.”
“Ngomong-ngomong kamu belum punya pacar ya? Siapapun gadis yang kamu suka pasti seneng! Habis kamu ganteng sih. Ehm… gadis yang bagaimana sih idolamu?”
Jantungku berdegup kencang, ‘ganteng’, katanya. Apa artinya ini?
“Yang seperti kamu tuh…!” kataku sambil menatapnya.
Eh dia bengong. Dari mulutnya terucap kata yang tak percaya.
“Bohong!”
Aku masih menatapnya, tapi aku segera menepis ucapanku. “Bohong kok!” sambil setengah berlari.
“Habis bercandanya pake tampang serius sih.” Sambil mengejarku. “sempat terpikir kalau itu sungguh-sungguh.”
“Di Club kan ada larangan pacaran.”
“Tapi peraturan tinggal sebulan lagi, bulan depan setelah pertandingan berakhir kan selesai… setelah itu eh…!”
Sumpah! Mendengar itu hatiku berdesir, apa yang Rinie katakan. Apakah Rinie juga menyukaiku?
Tapi Rinie mengalihkan pembicaraan, yang sebenarnya aku ingin mendengar kelanjutan kata-katanya.
“Makan mie ayam yuk! Hari ini aku yang traktir.”
Aku hanya menurut saja. Saat menunggu makanan disiapkan, aku memandang wajah Rinie. Sungguh cantik, hubungan persahabatan seperti inipun suka. Seandainya tidak bisa pacaran, aku ingin terus jadi sahabat laki-laki Rinie, bagiku itu sudah cukup.
“Kalau kamu sudah dapat pacar, kasih tau aku yah…”
Aku hanya mengangguk. Bagaimana mungkin bisa. Habis orang yang disuaki … selama 3 tahu ini aku terus menyukai Rinie.
“Nanti menangkan pertandingannya ya!”
“Ya”
“Selamat berjuang pada pertandingan terakhir nanti.”
Akankan hal ini berakhir begitu saja, setelah pertandingan selesai, selamat tinggal peraturan.
“Katanya kamu masih aktif di club basket?” Tanya Yanto ketika berjalan bersamaku keluar dari perpustakaan.
“Hanya sampai bulan depan.” Jawabku.
“Jangan-jangan kamu hanya mau ketemu Rinie. Hati-hati dia sudah punya pacar.”
“Kamu ngomong apa sih.”
Tiba-tiba Rinie datang dan menghampiriku.
“Ega…ini rencana Club bulan depan.” Kata Rinie sambil menyodorkan kertas yang dibawanya.
“Ega, Rin aku duluan ya.” Kata Yanto.
“Yap.”
Ketika aku membahas rencana Club tiba-tiba…. DUK. Eki menyikuku.
“Eh.. sory…” katanya sambil tersenyum sinis.
“Ini disengaja…” kataku marah.
“Ngomong apa kamu!”
“Hentikan!” sergah Rinie, melihat kami bersitegang. “Ega hentikan! Biarlah saya yang minta maaf.”
Kenapa Rinie mau minta maaf untuk orang seperti dia? Benarkah gosip yang mengatakan mereka pacaran.
“Kamu benar-benar keteralaluan.” Kata Rinie ke Eki.
“Hah… begitu ya!” kata Eki dan langsung pergi meninggalkan kami.
Rinie pun bergegas pergi ke taman.
“Rinie tunggu… ada apa…?”
Aku mengikutinya ke taman.
“Eki sering membujuk kencan, tetapi hanya sekali kami pergi, mungkin Eki salah paham dan menganggap aku suka padanya.” Kata Rinie dambil menundukan kepalanya. Ia kemudian menatapku. “Padahal aku sudah bilang bahwa aku suka pada orang lain tapi dia tidak mau tau.”
Apa mungkin orang yang Rinie sukai…? Rinie aku…, mulutku ingin mengatakan bahwa aku suka kamu, tapi aku tak boleh melanggar peraturan Club. Aku harus bisa menahannya.
“Yuk kita balik ke kelas.” Kata Rinie memcah pikitanku.
“Pada pertandingan nanti, akan menang untukmu. Pasti kita menang Rin.”
“Betul!”
“Ya… aku jannji.”
Munkin kami harus menahan perasaan kami berdua, karena larangan untuk berpacaran di Club Basket sekolah.
Ketika pertandingan tinggal seminggu lagi….
“Hari ini ada briefing dari kepala sekolah, aku pergi dulu ke ruang secretariat.” Kataku kepada teman-temannya.
“Nanti kami menyusul!”
Ketika sampai di depan ruang sekretarian Club Basket sekolah, aku kaget melihat lampu di dalam sudah menyala.
“Hentikan…!” ada suara dari dalam ruangan, itu suara Rinie.
Aku menerobos keruangan karena dari dalam Rinie terus berteriak. Ketika masuk aku melihat Rinie sedang dipojok didekap Eki.
“Eki… keparat kamu!” aku langsung menghantamkan pukulan dan tepat mengenai rahangya hingga terpental.
“Dia pacarku, kau tidak ada urusan!!!”
“Apa!!!”
Akupun bergumul dengan Eki. Saling pukul dan entah berapa pukulan yang aku layangkan dan mengenainya begitu juga yang aku terima.
Rinie terus berteriak untuk menghentikan kami, tapi aku seolah tak mendengarnya.
Namun tiba-tiba kami berhenti berkelahi ketika mendengar suara pak kepala sekolah menggelegar marah.
“Ada apa kalian berdua ribut-ribut!”
Pak Kepala Sekolah sudah berdiri didepan kami, dibelakannya Pak Guru Koko beserta teman-teman Club Basketku.
“Ega sebenarnya ada apa?” tanya Pak Guru Koko.
“Ada apa kalian membuat kelas ini berantakan!” kata Pak Kepala Sekolah dengan marah.”
Aku hanya diam, Eki dan Rinie pun hanya diam kaku.
“Kalian menimbulkan masalah sebelum kelulusan, kalian harus di sekors! Kalian berdua, cepat ke kantor kepala sekolah!”
“Tunggu dulu, jangan cepat-cepat ambil keputusan pak!” sela Pak Guru Koko.
“Pak Koko terlalu lemah terhadap murid-murid, kalau bapak mau menghilangkan brandal di Club Basketmu yah…!”
“Bapak janga begitu..”
Pak kepala sekolah beserta para guru mengadakan rapat dewan guru.
Aku menghadap Pak Guru Koko setelah tapat selesai.
“Ega, hasil rapat dewan guru… kamu tidak jadi di skorsing, tetapi kamu tidak boleh mengikuti pertandingan basket.” Kata Pak Guru Koko.
Aku kaget mendengar itu, aku sudah janji untuk memberikan kemenangan untuk Rinie, tapi… apa boleh buat.
“Saya mengerti..”
“Padahal tinggal pertandingan terakhir, saya telah membantumu tapi maafkan saya.”
“Ya pak… maafkan saya telah menyusahkan bapak.”
Berakhirlah sudah, setelah 3 tahun akhirnya seperti ini… aku merasa sedih. Maafkan aku Rinie tidak bisa melaksanakan janji itu.
Pertandingan akhirnya datang juga, aku tak henti memberi semangat, namun Clubnya semakin ketinggalan angka.
Rinie pun tidak datang. Sejak kejadian itu ia tidak kelihatan lagi. Aku kawatir tentang dia, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa.
Tanpa kusadari, Rinie sudah ada di belakangku dan ketika aku melihatnya aku segera menghampirinya.
“Rinie!”
“Ega maafkan aku.”
Dengan muka yang layu tidak kelihatan seperti Rinie yang kukenal. Rinie yang periang menjadi kaku wajahnya menatapku hampa.
“Kejadian waktu itu, Eki yang salah, lagipula aku tak apa-apa kok tidak ikut pertandingan. Lebih dari itu aku senang kau datang kesini.”
“Aku… Aku akan pindah sekolah.”
“Yang bener Rin” aku kaget mendengarnya.
“Sebetulnya bulan depan aku pindah tetapi rencana dipercepat, dan keputusan ini baru ditetapkan pada hari minggu lalu.”
“Mengapa begitu tiba-tiba. Padahal sebentar lagi pelulusan. Apa karena aku, pak Koko melindungi saya dalam rapat dewan guru karena itu, beliau mengambil tanggung jawab itu…”
“Bukan! Bukan itu, sama sekali kamu tidak bersalah, papa hanya bermaksud menolong aku. Ketika itu aku sangat gembira, didalam hati saya sudah berkata bahwa kamulah yang akan menolong saya.”
“Rinie” hatiku tak karuan. Kemenangan ini milikku, aku akan bertanding walau apa yang akan terjadi, aku akan sembahkan kemenangan ini untuk Rinie.
Aku melangkah dengan tekad yang bulat, aku harus main dan memenangkan pertandingan ini. Aku hampiri Pak Guru Koko.
“Pak saya mohon, tolong izinkan saya ikut pertandingan.” Pintaku.
“Pak, izinkan Ega bertanding bersama kami.” Kata teman-temanku.
“Kami ingin bertanding bersamanya untuk yang terakhir kalinya.” Kata Nenda dengan penuh harap.
Pak Guru Koko hanya diam, ia bersikeras Ega dilarang untuk ikut pertandingan.
“Pak guru, eh… papa, tolonglah.” Kata Rinie.
“Pak guru!”
“Baiklah akan kita coba… ”
“Terimakasih pak.” Ucapku girang. “Rinie…, akan kupersembahkan kemenangan ini untukmu..”
“Selamat berjuang!”
Aku langsung buka jaket dan berlari kelapangan menggantikan Ajat.
Pertandingan babak akhir sudah mulai.
“Untuk pak guru yang telah melindungiku!” kataku dan kulepaskan three point pertamaku, dan …. Masuk.
“Untuk teman-temanku yang telah mempercayaiku!” kulepaskan tembakan three point, dan…. Masuk. Yes!!!
“Untuk Rinie-ku” kulepaskan tembakan three point dan hasilnya… Masuk!.
Akhirnya pertandingan selesai. Club Basketku akhirnya mampu memenangkan pertandingan.
“Kamu rupanya disini. Kamu melakukan three point yang indah dan dunk yang cantik dan tak pernah gagal. Aku bangga padamu.”
Aku tersenyum mendengar pujian itu. “Itu untukmu.”
“Kamu ganteng sekali waktu melakukan three point, terimakasih… kenangan terakhir!”
Aku menatap Rinie yang berseri dan aku ingin mengatakan aku suka padamu, tapi aku masih ragu dan tak berani mengatakannya. Rinie… aku suka kamu.
“Kamu melihat apa.” Kata Rinie, aku tak sadar lama memandang wajahnya.
“Aku suka padamu. Aku memendam perasaan senang selama 3 tahun, latihan keraspun aku jalankan karena kamu ada disini pula.” Aku masih menatap Rinie. Kuraih tangannya, Rinie menatapku dan membiarkan aku memeluknya.
“Terimakasih, aku juga suka kamu…, walaupun kita tidak dapat lulus bersama-sama yang lupakan aku yah! Karena aku takkan melupakan apa yang terjadi disini, ega jangan lupakan aku…!” Berbisik ketelingaku dan terekam dengan indah.
Tidak akan terpulakan seumur hidupku. Menghabiskan hari-hari terakhir di SMU bersama kamu Rin. Kamu tidak akan pernah terlupakan. Sejauh apapun kita berpisah dan walaupun mungkin kita tidak bisa bertemu lagi untuk yang kedua kalinya, akan selalu ingat tempat ini karena kau berada disini, ditempat ini juga. Dalam pelukannku.
-- Tamat--
“Ayo Ega!, keluarkan jurusmu.”
Aku memang jago three point, hampir setiap lemparan tak pernah gagal. Disetiap pertandingan aku akan mencetak three point dibabak terakhir untuk mengungguli Club lawan teamku. Aku juga depend yang bagus, mampu memblok serangan lawan, itulah yang dimaksud -jurus- yang teman-temanku serukan untukku, mengartikan tiba saatnya aku keluarkan seluruh kekuatanku.
Yang disana, seorang siswi yang selalu memberi semangat pada Club Basket kami adalah Rinie, dia manajer Club Basket yang handal, seorang gadis periang, pintar dan lucu, lagi pula dia adalah anak Pak Guru Koko, pembimbing Club Basket. Wajar kalau Rinie jadi sangat popular.
Aku suka padanya tapi agak repot, di dalam club basket cinta dilarang.
“Ega, liat tuh, dia datang lagi.” Kata Nenda berbisik, ia memandang Eki dengan perasaan yang tak senang.
“Eki kan playboy, dia pernah merebut pacarku, sialan.” Geram Dedi.
“Katanya sekarang Eki berhubungan dengan Rinie.” Kata Nenda.
“Sialan kenapa kita dilarang pacaran, kalau tidak, Rinie pacarku. Aku ingin mematahkan ‘kunyuk’ itu.” Kata Dedi.
“Dari pada kamu lebih baik Eki.” Kata Nenda.
“Apa katamu!!!”
Aku mengerti kenapa mereka marah, karena perasaanku sama seperti mereka. Mungkin seluruh anggota Club Basket. Larangan untuk jatuh cinta mungkin tak berlaku bagi Rinie. Kami sendiri yang membuat persetujuan itu, tapi kami juga yang menderita.
Usai latihan, kami pamit pulang pada Pak Guru Koko.
“Terus pulang ya, jangan mampir kemana-mana.” Kata Pak Guru Koko.
“Kami permisi dulu pak!” kata mereka.
Akupun pamitan, diluar ruangan Rini telah menunggu kami.
“Ega!… pulang sama-sama yuk!” kata Rinie begitu melihat kami keluar dari ruangan.
“Ega kan serigala, nanti kamu harus keluar dari Club Basket lho!” goda Nenda.
“Apaan sih!”
Entah sejak kapan, dengan alasan rumahnya berdekatan, aku sering mengantar Rinie pulang.
“Hari ini Eki tidak ada ya?” kataku mengisi pembicaraan dalam perjalanan pulang.
“Malu ah, aku ditanya itu terus!”
“Tapi kamu suka kan!”
“Kamu cemburu ya!?”
“Ah… nggak, tapi hati-hati karena katanya dia playboy.”
“Ngomong-ngomong kamu belum punya pacar ya? Siapapun gadis yang kamu suka pasti seneng! Habis kamu ganteng sih. Ehm… gadis yang bagaimana sih idolamu?”
Jantungku berdegup kencang, ‘ganteng’, katanya. Apa artinya ini?
“Yang seperti kamu tuh…!” kataku sambil menatapnya.
Eh dia bengong. Dari mulutnya terucap kata yang tak percaya.
“Bohong!”
Aku masih menatapnya, tapi aku segera menepis ucapanku. “Bohong kok!” sambil setengah berlari.
“Habis bercandanya pake tampang serius sih.” Sambil mengejarku. “sempat terpikir kalau itu sungguh-sungguh.”
“Di Club kan ada larangan pacaran.”
“Tapi peraturan tinggal sebulan lagi, bulan depan setelah pertandingan berakhir kan selesai… setelah itu eh…!”
Sumpah! Mendengar itu hatiku berdesir, apa yang Rinie katakan. Apakah Rinie juga menyukaiku?
Tapi Rinie mengalihkan pembicaraan, yang sebenarnya aku ingin mendengar kelanjutan kata-katanya.
“Makan mie ayam yuk! Hari ini aku yang traktir.”
Aku hanya menurut saja. Saat menunggu makanan disiapkan, aku memandang wajah Rinie. Sungguh cantik, hubungan persahabatan seperti inipun suka. Seandainya tidak bisa pacaran, aku ingin terus jadi sahabat laki-laki Rinie, bagiku itu sudah cukup.
“Kalau kamu sudah dapat pacar, kasih tau aku yah…”
Aku hanya mengangguk. Bagaimana mungkin bisa. Habis orang yang disuaki … selama 3 tahu ini aku terus menyukai Rinie.
“Nanti menangkan pertandingannya ya!”
“Ya”
“Selamat berjuang pada pertandingan terakhir nanti.”
Akankan hal ini berakhir begitu saja, setelah pertandingan selesai, selamat tinggal peraturan.
“Katanya kamu masih aktif di club basket?” Tanya Yanto ketika berjalan bersamaku keluar dari perpustakaan.
“Hanya sampai bulan depan.” Jawabku.
“Jangan-jangan kamu hanya mau ketemu Rinie. Hati-hati dia sudah punya pacar.”
“Kamu ngomong apa sih.”
Tiba-tiba Rinie datang dan menghampiriku.
“Ega…ini rencana Club bulan depan.” Kata Rinie sambil menyodorkan kertas yang dibawanya.
“Ega, Rin aku duluan ya.” Kata Yanto.
“Yap.”
Ketika aku membahas rencana Club tiba-tiba…. DUK. Eki menyikuku.
“Eh.. sory…” katanya sambil tersenyum sinis.
“Ini disengaja…” kataku marah.
“Ngomong apa kamu!”
“Hentikan!” sergah Rinie, melihat kami bersitegang. “Ega hentikan! Biarlah saya yang minta maaf.”
Kenapa Rinie mau minta maaf untuk orang seperti dia? Benarkah gosip yang mengatakan mereka pacaran.
“Kamu benar-benar keteralaluan.” Kata Rinie ke Eki.
“Hah… begitu ya!” kata Eki dan langsung pergi meninggalkan kami.
Rinie pun bergegas pergi ke taman.
“Rinie tunggu… ada apa…?”
Aku mengikutinya ke taman.
“Eki sering membujuk kencan, tetapi hanya sekali kami pergi, mungkin Eki salah paham dan menganggap aku suka padanya.” Kata Rinie dambil menundukan kepalanya. Ia kemudian menatapku. “Padahal aku sudah bilang bahwa aku suka pada orang lain tapi dia tidak mau tau.”
Apa mungkin orang yang Rinie sukai…? Rinie aku…, mulutku ingin mengatakan bahwa aku suka kamu, tapi aku tak boleh melanggar peraturan Club. Aku harus bisa menahannya.
“Yuk kita balik ke kelas.” Kata Rinie memcah pikitanku.
“Pada pertandingan nanti, akan menang untukmu. Pasti kita menang Rin.”
“Betul!”
“Ya… aku jannji.”
Munkin kami harus menahan perasaan kami berdua, karena larangan untuk berpacaran di Club Basket sekolah.
Ketika pertandingan tinggal seminggu lagi….
“Hari ini ada briefing dari kepala sekolah, aku pergi dulu ke ruang secretariat.” Kataku kepada teman-temannya.
“Nanti kami menyusul!”
Ketika sampai di depan ruang sekretarian Club Basket sekolah, aku kaget melihat lampu di dalam sudah menyala.
“Hentikan…!” ada suara dari dalam ruangan, itu suara Rinie.
Aku menerobos keruangan karena dari dalam Rinie terus berteriak. Ketika masuk aku melihat Rinie sedang dipojok didekap Eki.
“Eki… keparat kamu!” aku langsung menghantamkan pukulan dan tepat mengenai rahangya hingga terpental.
“Dia pacarku, kau tidak ada urusan!!!”
“Apa!!!”
Akupun bergumul dengan Eki. Saling pukul dan entah berapa pukulan yang aku layangkan dan mengenainya begitu juga yang aku terima.
Rinie terus berteriak untuk menghentikan kami, tapi aku seolah tak mendengarnya.
Namun tiba-tiba kami berhenti berkelahi ketika mendengar suara pak kepala sekolah menggelegar marah.
“Ada apa kalian berdua ribut-ribut!”
Pak Kepala Sekolah sudah berdiri didepan kami, dibelakannya Pak Guru Koko beserta teman-teman Club Basketku.
“Ega sebenarnya ada apa?” tanya Pak Guru Koko.
“Ada apa kalian membuat kelas ini berantakan!” kata Pak Kepala Sekolah dengan marah.”
Aku hanya diam, Eki dan Rinie pun hanya diam kaku.
“Kalian menimbulkan masalah sebelum kelulusan, kalian harus di sekors! Kalian berdua, cepat ke kantor kepala sekolah!”
“Tunggu dulu, jangan cepat-cepat ambil keputusan pak!” sela Pak Guru Koko.
“Pak Koko terlalu lemah terhadap murid-murid, kalau bapak mau menghilangkan brandal di Club Basketmu yah…!”
“Bapak janga begitu..”
Pak kepala sekolah beserta para guru mengadakan rapat dewan guru.
Aku menghadap Pak Guru Koko setelah tapat selesai.
“Ega, hasil rapat dewan guru… kamu tidak jadi di skorsing, tetapi kamu tidak boleh mengikuti pertandingan basket.” Kata Pak Guru Koko.
Aku kaget mendengar itu, aku sudah janji untuk memberikan kemenangan untuk Rinie, tapi… apa boleh buat.
“Saya mengerti..”
“Padahal tinggal pertandingan terakhir, saya telah membantumu tapi maafkan saya.”
“Ya pak… maafkan saya telah menyusahkan bapak.”
Berakhirlah sudah, setelah 3 tahun akhirnya seperti ini… aku merasa sedih. Maafkan aku Rinie tidak bisa melaksanakan janji itu.
Pertandingan akhirnya datang juga, aku tak henti memberi semangat, namun Clubnya semakin ketinggalan angka.
Rinie pun tidak datang. Sejak kejadian itu ia tidak kelihatan lagi. Aku kawatir tentang dia, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa.
Tanpa kusadari, Rinie sudah ada di belakangku dan ketika aku melihatnya aku segera menghampirinya.
“Rinie!”
“Ega maafkan aku.”
Dengan muka yang layu tidak kelihatan seperti Rinie yang kukenal. Rinie yang periang menjadi kaku wajahnya menatapku hampa.
“Kejadian waktu itu, Eki yang salah, lagipula aku tak apa-apa kok tidak ikut pertandingan. Lebih dari itu aku senang kau datang kesini.”
“Aku… Aku akan pindah sekolah.”
“Yang bener Rin” aku kaget mendengarnya.
“Sebetulnya bulan depan aku pindah tetapi rencana dipercepat, dan keputusan ini baru ditetapkan pada hari minggu lalu.”
“Mengapa begitu tiba-tiba. Padahal sebentar lagi pelulusan. Apa karena aku, pak Koko melindungi saya dalam rapat dewan guru karena itu, beliau mengambil tanggung jawab itu…”
“Bukan! Bukan itu, sama sekali kamu tidak bersalah, papa hanya bermaksud menolong aku. Ketika itu aku sangat gembira, didalam hati saya sudah berkata bahwa kamulah yang akan menolong saya.”
“Rinie” hatiku tak karuan. Kemenangan ini milikku, aku akan bertanding walau apa yang akan terjadi, aku akan sembahkan kemenangan ini untuk Rinie.
Aku melangkah dengan tekad yang bulat, aku harus main dan memenangkan pertandingan ini. Aku hampiri Pak Guru Koko.
“Pak saya mohon, tolong izinkan saya ikut pertandingan.” Pintaku.
“Pak, izinkan Ega bertanding bersama kami.” Kata teman-temanku.
“Kami ingin bertanding bersamanya untuk yang terakhir kalinya.” Kata Nenda dengan penuh harap.
Pak Guru Koko hanya diam, ia bersikeras Ega dilarang untuk ikut pertandingan.
“Pak guru, eh… papa, tolonglah.” Kata Rinie.
“Pak guru!”
“Baiklah akan kita coba… ”
“Terimakasih pak.” Ucapku girang. “Rinie…, akan kupersembahkan kemenangan ini untukmu..”
“Selamat berjuang!”
Aku langsung buka jaket dan berlari kelapangan menggantikan Ajat.
Pertandingan babak akhir sudah mulai.
“Untuk pak guru yang telah melindungiku!” kataku dan kulepaskan three point pertamaku, dan …. Masuk.
“Untuk teman-temanku yang telah mempercayaiku!” kulepaskan tembakan three point, dan…. Masuk. Yes!!!
“Untuk Rinie-ku” kulepaskan tembakan three point dan hasilnya… Masuk!.
Akhirnya pertandingan selesai. Club Basketku akhirnya mampu memenangkan pertandingan.
“Kamu rupanya disini. Kamu melakukan three point yang indah dan dunk yang cantik dan tak pernah gagal. Aku bangga padamu.”
Aku tersenyum mendengar pujian itu. “Itu untukmu.”
“Kamu ganteng sekali waktu melakukan three point, terimakasih… kenangan terakhir!”
Aku menatap Rinie yang berseri dan aku ingin mengatakan aku suka padamu, tapi aku masih ragu dan tak berani mengatakannya. Rinie… aku suka kamu.
“Kamu melihat apa.” Kata Rinie, aku tak sadar lama memandang wajahnya.
“Aku suka padamu. Aku memendam perasaan senang selama 3 tahun, latihan keraspun aku jalankan karena kamu ada disini pula.” Aku masih menatap Rinie. Kuraih tangannya, Rinie menatapku dan membiarkan aku memeluknya.
“Terimakasih, aku juga suka kamu…, walaupun kita tidak dapat lulus bersama-sama yang lupakan aku yah! Karena aku takkan melupakan apa yang terjadi disini, ega jangan lupakan aku…!” Berbisik ketelingaku dan terekam dengan indah.
Tidak akan terpulakan seumur hidupku. Menghabiskan hari-hari terakhir di SMU bersama kamu Rin. Kamu tidak akan pernah terlupakan. Sejauh apapun kita berpisah dan walaupun mungkin kita tidak bisa bertemu lagi untuk yang kedua kalinya, akan selalu ingat tempat ini karena kau berada disini, ditempat ini juga. Dalam pelukannku.
-- Tamat--
Comments
Post a Comment