Antara Yuda, Angga dan Aku

Pertemuan dengan Yuda membuat hatiku bergetar. Ada perasaan aneh dibalik kebencianku padanya. Terkadang aku merindukan sosoknya yang begitu gagah. Ah… aku terlalu melebihkannya. Ia kekasihku yang amat aku sayangi, tapi itu dulu sebelum ia menghianatiku. Sekarang ia berpacaran dengan Nina. Sungguh menyakitkan memang.

Mungkin kalau tidak ada kejadian itu aku akan selalu setia padanya. Ia yang memperkenalkan aku pada cinta, Ia yang pertama memberiku kebahagiaan dan Ia juga yang pertama kali menciumku. Sampai saat ini aku masih ingat pada kenangan bersamanya, saat-saat yang indah. "Mungkin itu salah satu penyebabnya".

Aku selalu merasa damai bila didekatnya, berjalan berdua mengintari indahnya taman bunga. Menemani aku di rumah kala kedua orangtuaku pergi dengan kesibukan pekerjaannya. Dan disela-sela waktu itu aku selalu berada didekapnya.

Aku sangat mengidolakannya. Bahkan Aku mencoba mengubah Rangga kekasihku yang sekarang menjadi sosok seperti Yuda. Aku kadang merasa kasihan padanya. Selalu kuatur dan memaksakan Rangga tampil melebihi Yuda. Andai saja Rangga tau semua itu, ia akan kecewa sekali padaku. Memang aku tak mempedulikannya, Ia ingin seperti dirinya sendiri. Tapi aku egois, aku ingin Ia segagah Yuda.

Entahlah. Aku selalu membandingkan Rangga dengan Yuda. Yuda lebih baik dari Rangga. Ia cowok periang apalagi kalau Ia menggodaku, sungguh aku akan luluh dan segera berada didekapnya.

Saat aku mudik, Yuda menemuiku. Disanalah aku mulai sadar bahwa Rangga lebih baik dari Yuda. Ia berkata :
“Aku minta maaf atas kekhilafanku waktu itu, kuharap kamu mau memaafkan kesalahanku”. Ia menatapku. Hilaf ! Hilaf katamu setelah kau bosan dengan Nina. Kataku dalam hati. Aku mendadak benci terhadapnya. Aku hanya diam. “kamu tak mau memaafkanku ?”. Sudahlah Yud, aku pernah mendengar perkataanmu bahwa cinta tak perlu kata maaf, yang lalu biarkanlah berlalu. “Aku juga berharap begitu, aku ingin kau kembali padaku”.

Mendengar itu aku jadi muak, aku semakin membencinya. Aku tahu Ia telah putus dengan Nina. Dan Ia ingin kembali, Tidak !.
Ia pun pamit pulang setelah dengan jelas aku beberkan bahwa aku tak mungkin kembali padanya.

Aku ingin segera ke kota yang mempertemukan aku dengan Rangga, bukan disini. Aku telah salah merindukan orang. Semuanya itu semu. Aku benci Yuda.

Kota yang mempertemukan aku dengan Rangga, dimana aku dengannya bersama-sama menimba ilmu telah kuinjak. Pagi sekali aku ke kosan Rangga. Ketika bertemu, aku memeluknya erat. Mungkin Ia merasa bahwa aku sangat merindukannya. Akupun lama menatap wajahnya. Disitu aku dapat merasakan bahwa Rangga lebih baik dari Yuda. Ia pacarku, dan tak perlu aku menjadikan ia segagah Yuda. Ia punya kharisma yang mengesankan. Dan baru aku sadari bahwa Ia sangat mencintai aku. Ia punya kelebihan tersendiri dan yang tahu cuma aku sendiri, yaitu pengertiannya.

Maafkan aku Rangga, bisikku dalam hati.
“Mengapa engkau menangis, apa yang telah terjadi diperjalananmu ?”
Ia menatapku cemas. Aku tak sadar telah mengucurkan air mata. Air mata tanda
permohonan maafku.

Aku kangen kamu. Aku tak punya jawaban lain. Dan itu membuat Ia mengeratkan pelukannya dan mengecup keningku beberapa kali. Aku sandarkan tubuhku di dadanya.
Obrolan mengalun sekitar perjalanan mudikku dan keadaan disana, dan masih banyak lagi cerita. Dan saat Ia menceritakan keadaannya kala aku mudik, benakku melayang. Entah mengapa aku baru menyadari Ia kekasihku seutuhnya. Ia begitu mengkhawatirkan aku. Aku tahu dari perkataan dan ekspresi wajahnya.

Aku bicara dalam hati, Rangga aku minta maaf. Setelah sekian lama baru aku sadari mengapa aku menginginkan kamu seperti sosok Yuda. Itu tak perlu, yang kubutuhkan bukanlah wujud fisik, melainkan kesetiaan, tanggung jawab dan perhatian. Aku tahu, engkau dengan kekuranganmu telah banyak cewek simpati padamu. Dan aku bisa melihat kelebihanmu.

Hari-hari berikutnya aku selalu ingin bersamanya. Aku ingin membahagiakannya, namun ada perubahan sikap yang nampak darinya. Aku merasa Ia terkadang lembut… lembut sekali. Kadang pula Ia seolah membenciku, menatapku dengan penuh selidik. Apakah arti semua itu. Aku mulai bertanya-tanya. Memang Ia terlalu aneh untuk dihadapi. Aku tak bisa menebak apa yang ia inginkan. Aku tak tahu apakah Ia tahu perasaanku dulu dan perasaanku sekarang. Acara mudikku yang ingin bertemu dengan Yuda. Tidak mungkin Ia tahu apa yang aku sembunyikan. Cuma aku yang tahu tidak seorangpun tahu.

Dan aku benar-benar merasa bersalah dan entah perasaan apa saja yang tertampung di kalbuku. Aku mendapati Rangga telah pindah kuliah ke kampung halamannya empat hari yang lalu. Aku hanya mendapat sepucuk surat dari teman kosnya.

Isinya sungguh membuat aku merasa benci pada diriku sendiri. “Aku telah berjuang meyakinkanmu. Tentang harapan, tentang cinta, namun aku gagal. Kau tak pernah mencintai aku seperti apa adanya aku. Kembalilah ke Idolamu, atau cari seseorang yang bisa seperti idolamu itu. Bukan aku sayang”. Ya…Tuhan Air mataku menetes.

“Aku sadar bahwa kau mulai menerimaku apa adanya, kamu tak punya pilihan lain selain mencintaiku. Tapi saat kegagalan mulai sirna waktu telah berkata lain, semuanya terlambat. Aku telah memutuskan untuk kembali ke kampung halamanku dan kuliah disana. Kuucapkan selamat tinggal sayang, kau akan selalu mengingatku, karma kau gagal menjadikan aku seperti idolamu”.

Aku lemas membaca surat itu. Oh…Rangga maafkan aku. Aku berkata seolah kepada diriku, mengapa terjadi seperti ini. Siapa yang salah ? kau tidak bersalah. Kau sudah tahu semua, engkau telah menyimpan duka. Mungkin lebih perih daripada apa yang kurasakan sekarang. Mengapa ? aku tak dapat berkata-kata lagi. Tidak pula dalam batinku. Aku terima kenyataan ini. Memang aku telah menyia-nyiakan cintanya. Namun darimana ia tahu semua itu ? pertanyaan itu mengukir dan membebani kalbuku, dan tak ada jawaban.

-- Tamat --

Comments

Popular Posts