Kesepian Yang Panjang

Stasiun lempuyangan masih ramai oleh para penumpang yang hendak melanjutkan perjalanan ke tempat tujuannya masing-masing. Di loket, antrian panjang calon penumpang yang membeli karcis. Bunyi khas stasiun berdentang terdengar informasi bahwa kereta api yang terakhir dari Surabaya akan segera sampai di stasiun.
Pin siap-siap menyambut kereta yang datang itu, ia berharap kereta kali ini akan membawa serta Wina didalamnya. Sementara Ogus temanya hanya bisa mengikuti Pin. Ia pun ikut-ikutan bediri mengikuti Pin mendekati jalur satu.
“Apa kau yakin, menurutku Wina tak mungkin kembali secepat ini.” Kata Agus agak berbisik ke tetelinga Pin, ia mengingatkan Pin bahwa Wina tidak akan kembali lagi ke Yogya. Mendengar itu, Pin hanya diam, setengah terkejut tapi ia berkeras hati yakin bahwa kali ini Wina pasti pulang ke Yogya. Aku yakin, kata pin dalam hati.
Mendengar itu, Pin hanya diam, setengah terkejut tapi ia berkeras hati yakin bahwa kali ini Wina pasti pulang ke Yogya. Aku yakin, kata pin dalam hati.
“Ini yang terakhir! Mulai besok aku tidak akan menemanimu lagi, ini sudah yang kelima kalinya, Pin. Dan hasilnya? Wina tak kembali juga kan.” Pin diam, ia tak mendengarkan perkataan Ogus, pandangannya beralih pada kereta yang sudah mulai berhenti di depannya.
Pin diam, ia tak mendengarkan perkataan Ogus, pandangannya beralih pada kereta yang sudah mulai berhenti di depannya.
“Gus, kau kesebelah barat, aku kesebelah timur, kita ketemu nanti didekat ruang informasi.” Kata Pin, ia tengak-tengok melihat semua orang yang turun dari kereta, matanya terus mencari sosok Wina.
Ogus garuk garuk kepala, tp apa boleh buat, ia ngeloyor ke sebelah barat. Entah apa yg ia gumankan, suaranya kalah dengan suara lokomotif yg semakin mendekat.
Suasana menjadi riuh, penumpang yang turun dan penumpang yang naik saling mendahului, Pin bergerak perlahan sambil tak pernah berhenti melihat semua orang yang keluar dari satu gerbong ke gerbong lainnya. Dalam hatinya berharap salah satu penumpang yang turun adalah Wina.

Tapi sampai gerbong yang paling ujung ia tidak menemukan Wina. Ia kembali mecari lebih teliti lagi, hampir setiap orang ia lihat, terutama perempuan. Ia kembali berjalan ke bagian barat sampai ketemu Ogus yang sama-sama sedang melongok kiri-kanan memperhatikan penumpang mencoba mencari Wina.
“Tak ketemu Pin, Wina tidak ada.” Tanpa ditanya Ogus menjawab pandanga Pin yang mengisyaratkan apakah menemukan Win?
“Coba lebih teliti lagi.”
Mereka berdua sama-sama mencari wina, dari kepala sampai ke ujung kereta, tapi belum bisa menemukan Wina.
Sampai akhirnya semua penumpang tidak ada lagiyang turun. Wina belum juga diketemukan. Pin kembali duduk bersandar di dekat ruang informasi. Matanya masih terus mencoba menemukan Wina.
Ogus duduk bersandar di samping Pin, ia bukan bingun tidak menemukan Wina, yang ia pikirkan, kenapa Pin selalu menunggu Wina di stasiun sampai sekarang ini. Padahal Wina jelas pulang ke kampung halamannya untuk selamanya, kalaupun ke Yogya hanya sesekali dan tidak secepat ini.
“Pin, apakah Wina telepon?”
Pin diam, ia tidak segera menjawab pertanyaan Ogus, Pin menatap Ogus.
“Enggak, tapi…”
“Enggak usah pakai tapi, nelpon nggak?”
Pin hanya diam, dalam hatinya menyadari kalau Wina tak mungkin kembali lagi ke Yogya. Perpisaan yang tidak tahu ujungnya, kapan akan beretemu lagi. Ini sangat menyakitkan, Aku rindu kamu Win… teriak Pin dalam hati.
***
Tak biasanya hujan disaat sekarang ini, musim kemarau sudah terlihat, tapi kali ini ada hujan. Gerimis yang panjang membasahi kota Jogja dan akhirnya hujan deras mengguyur membasahi bumi. Banyak orang-orang kehujanan tak menyangka akan ada huja saat ini.
Pin pun berada diantara mereka, ia mengendap-endap diantara pepohonan di Jalan Solo, ia duduk di depan toko yang tutup memandangi jalanan yang masih lalu lalang kendaraan. Pikirannya melayang, ia masih mengharapkan kehadiran Wina. Biasanya Wina-lah yang sering menemani setiap perjalanan, ia tidak pernah pergi sendiri tanpa Wina.
Pin mencoba menepis semua kenangan bersama Wina tapi malah semakin larut dalam lamunannya, pikirannya teringat terus kenangan-kenangan bersama Wina.
Hujan masih belum reda, Pin yang duduk di depan toko tidak menghirauan tubuhnya diterpa hujan. Pin merangkul kakinya, menenggelamkan lamunyanya yang semakin larut.
Wina yang tidak pernah bosan  menemani langkahnya, main game ke Timezone, shoping ringan atau sekedar jalan-jalan Wina pasti ikut serta. Hampir semua tempat di kota Yogya menyimpan kenangan dirinya bersama Wina. Itulah yang membuat Pin semakin larut dalam kesedihannya.
Pin sangat merasa kesepian sekali semenjak ditinggal Wina pulang ke kampung halamannya. Hidupnya terasa hampa, seandainya Wina melihat keadaan Pin yang sedang menggigil kedinginan, duduk memeluk kakinya yang diterpa hujan ia akan meneteskan air mata. Inilah nasib orang uang dirundum duka. Raganya diam, namun rohnya melayang mencari jalan tersendiri terbawa hanyut dalam perasaan kesal, sedih dan ganjalan yang menyatu didalam hatinya.
“Kamu pulang Win?” kata Pin, entah itu pertanyaan atau apa yang jelas Pin belum bisa menerima kenyatan kalau Wina harus mudik, pulang ke kampung halaman selamanya.
Wina mengangguk pelan, hatinya teriris oleh kata-kata Pin. Ia tahu kalau Pin belum bisa menerima kenyataan pahit ini, tapi haru bagamana.
“Jangan boros ya kalau nanti aku tidak ada disisimu. Nanti suatu saat aku akan kembali lagi ke Yogya.”
“Kapan Win?”
“Entahlah…”
“Kau pergi meninggalkanku dan tak ada ujungnya kapan akan bertemu lagi Win?”
“Pin, jangan kaktakan aku meninggalkanmu, aku sendiri masih ingin disini di dekatmu, tapi… tapi kenyataan berkata lain, aku harus pulang Pin.” Kata Wina waktu itu yang masih terngiang di terlinga Pin.
***
Pin kehilangan kesadarannya, ia membiarkan tubuhnya menggigil diterpa hujan, yang ada dalam pikirannya hanyalah Wina, Wina dan Wina.
Ogus teman kost-nya, ikut prihatin melihat Pin sering mengurung diri di kamar, mengigau menyebut nama Wina. Sering mendengarkan Pin selalu menyanyikan lagu jikustik ‘Aku masih disini untuk setia’, walaupun tak pernah benar syairnya.
Pin didapati sedang duduk di sudut kamarnya yang berantakan, ia  memegang pena, terlihat banyak coretan di buku yang ia pegang. Ogus hanya menggelengkan kepala melihat itu semua.
“Pin aku tahu hatimu bersedih, aku juga merasa kehilangan Wina. Tapi kau harus mau menerima kenyataan ini dengan hati yang lapang. Coba kau pikir, suatu saat nanti kau pun pulang ke tempatmu dan tentunya tidak jauh beda. Kalau memang kau sangat mencintai Wina, seharusnya kau bangkit dan tunjukan keberhasilanmu tanpa dia. Disanalah kau bisa mendatangi dia.
“Apa yang kau inginkan, hancur! Iya hancur yang kau inginkan, kalau itu terjadi, bukan hanya kau Pin yang rugi, tak hanya kau seorang, keluargamu yang berharapkan keberhasilanmu, Wina, mereka akan bersedih. Ingat itu Pin.”
Pin hanya menatap hampa pada Ogus. Dimatanya terlihat tidak ada semangat.
“Aku akan baik-baik saja.” Ucapnya lesu.

“Seperti ini yang kau bilang akan baik-baik saja! Sampai kapan? Mengapa kau masih tak mau menerima kenyataan ini, kalau memang jodoh tidak akan lari kemana, lagian kalau Wina tahu kau jadi begini, itu sama saja menambak kesedihan Wina saja.” Kata Ogus sambil mendekati Pin dan duduk di sampingnya.
“Aku kesepian, aku tak tahu mengapa aku begini, aku juga tahu apa yang aku lakukan ini sia-sia. Percuma. Tapi aku tak bisa menolak perasaanku yang sungguh, sungguh sangat merasa kehilangan. Rasanya ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang mengganjal perasaanku. Wina dia satu-satunya yang aku punya, aku sangat mencintainya dan aku rindu padanya. Dia pulang dan tak ada ujungnya kapan dia akan bertemu lagi.” Pin menjambak rambutnya, wajahnya menengadah menatap langit-langit.
“Cinta! Cinta! Cinta terus yang kau pikirkan. Coba kau dekatkan diri ke Yang Maha Kuasa. Wina pergi bukan untuk selamanya, Wina ada disana dan menantumu, sama seperti dirimu setiap hari berharap kehadiran dirimu. Aku yakin, Wina juga merindukanmu dan berharap akan bertemu kembali. Sadarlah Pin! Kau pikir betapa tak bergunanya dirimu bila terus begini.” Ogus menatap wajah Pin dalam-dalam, mencoba menghilangkan yang ada dalam hati Pin.
“Biarkan aku begini, aku akan menikmati kesepian yang panjang ini.” “Tapi…” “Tak usah khawatir, aku masih bisa jaga diri. Biarkan aku sendirian, aku tak ingin diganggun. Please…” Ogus tak bisa berbuat banyak, entah yang keberapa kalinya Pin mengatakan begitu setiap kali Ogus berusaha menemaninya. Hanya iba yang tersandar dihatinya. Ia beraharap suatu saat Pin akan sadar dan menerima kenyataan ini.
Pin menghentikan langkahnya, ia sama sekali tidak punya tujuan, asal berjalan mengikuti kata hatinya. Sampai ia disebuah lapangan di bagian barat Gor Mandala Krida. Pin duduk memandangi sisa bulan yang hampir hilang. Aku tidak tahu dimana kau berada, kata Pin dalam hati mengiringi langkah pikirannya yang tak mau berhenti mengingat semua kenangan yang semakin menggerogoti perasaannya. Aku sadar kenyataan pahit ini lambat laun akan kita jalani dan sekaranglah waktunya. Tapi sungguh diluar kuasaku, aku masih belum bisa menerima kenyataan ini. Ada rasa kesal yang mengganjal di hati dan sulit untuk dihilangkan, seolah ada yang hilang dari diriku. Win, kau telah menjadi bagian dari hidupku. Di kota Yogya ini telah menyimpan banyak kenangan. Setiap langkah kakiku ada semua tempat yang pernah kita lewati. Kau , aku, bersama. Apakah ini yang membuat aku begini.
Entah dari mana , Ogus begitu saja muncul dan mendekai Pin. “Sedang apa Pin? Maaf kalau aku menggangu lamunanmu.” Sapa Ogus yang sudah berdiri didepan Pin. Pin menatap Ogus, tapi tidak ada kata yang mampu ia ucapkan. Matanya perih dan seolah ingin menangus, hatinya semakin tergores setiap kali mendengar nasihat Ogus. Pin merasa, Oguslah yang selalu memperhatikanku, dialah teman yang mengerti apa yang ia rasakan. Tapi Pin tidak tahu apa yang harus ia lakukan. “Pin, mungkin aku terlalu cerewet, maaf. Aku selalu ikut campur masalahmu, terserah kamu mau bilang apa. Aku hanya ingin melihat sahabatku bangkit, aku yakin kamu bisa walau tanpa Wina didekatmu. “Kulihat dirimu terus hanyut dalam kesedihan. Pin, berusahalah menerima kenyataan ini. Jawaban apa yang kau berikan bila nanti Wina menanyakan kabarmu? Sekolahmu? Nol besarkah!, Turun! Hancur, itukah? Ya Tuhan, pasti akan membuat luka baru buat Wina.
Kata-kata itu seolah menembus hatinya, Pin hanya diam. Dihatinya mencaci Ogus, seandainya kau yang mengalaminya Gus. “Sudahlah Pin, apa kau ingin dirimu seperti ini terus? Sampai kapan Pin? Jangan kau biarkan dirimu hanyut dalam kesedihan terus. Cobalah untuk menerima kenyataan ini. “Aku sebagai temanmu iba dengan keadaanmu yang setiap hari selalu begini, mana Pin yang dulu, mana? Hanya karena hal semacan ini kau jadi hancur. Pin jangan berpikir Wina pergi meninggalkan cintamu, ia disama menanti.” Kata Ogus sambil menguncang-guncang bahu Pin. “Apa kau akan memperlihatkan Pin yang bobrok kalau nanti Wina datang kesini?” Pin masih terdiam, ia menatap bulan yang semakin terlihat jelas, kemudian mengalihkan pandangannya pada Ogus, tapi masih dengan pandangan yang lesu. “Terimakasih Gus.” Pin berdiri dan menepuh bahu Ogus dan berjalan melewatinya. “Tapi biarkan aku begini… “ ucap Pin sambil berlalu meninggalkan Ogus. “Pin…” Pin mengangkat tangan kanannya tanpa menoleh ke Ogus, mengisyaratkan agar Ogus tidak bicara lagi. Ogus hanya menarik nafas panjang. Pin melangkahkan kakinya lambat, masih belum pasti tujuannya kemana. Dari bening matanya menetes air membasahi pipinya bercampur dengan gerimis yang turun mewarnai malam yang menyeret Pin kedalam kesunyian yang panjang.



Comments

Popular Posts